Terkini

Mengenal Badai Sitokin, Penyebab Suami Joanna Alzexander Drop dan Berpulang

Warnahidup, Jakarta – Kabar duka datang dari suami aktris Joanna Alexandra bernama Raditya Oloan. Radytya berpulang setelah  berjuang melawan badai sitokin kondisi yang dia alami usai mengalami Covid-19.

Mengenal Badai Citokin

 

Dari halaman  Instagram @joannaalexandra  pada Selasa (4/5) menuliskan kondisinya post-covid dengan komorbid asma, dan dia sedang mengalami badai sitokin yang menyebabkan hiperinflamasi (peradangan) di sekujur tubuhnya…ditambah lagi ada infeksi bakteri yang lumayan kuat (tapi tidak sekuat Bapa kita tentunya).

Menurut Joanna, kondisi tersebut juga membuat ginjal suaminya tak berfungsi dengan baik. Sebelumnya, Raditya pada 17 April dirujuk ke RSUP Persahabatan untuk mendapat penanganan yang lebih baik. Saat itu Joanna masih dirawat di RSDC Wisma Atlet bersama beberapa orang rumahnya yang juga ikut positif Covid-19.

Baik Radit atau Joanna sempat menegaskan kalau dirawatnya Radit di ICU sudah bukan lagi karena positif Covid-19, namun efek dari Covid-19 yang disebut Radit membuat terjadinya peradangan.

“Btw tadi pagi gue udah di swab dan hasilnya negatif. Tapi si covid itu sempet bikin serangan sampe badan gue terjadi peradangan,” tulis Raditya di akun Instagramnya @radityaoloan.

Namun, Kamis (6/5) kemarin akhirnya Radiya mengembuskan napas terakhirnya.

Mengenal Badai Citokin

Menurut para ahli kesehatan dunia; tingginya angka kematian pada Pasien Covid-19 kemungkinan besar disebabkan oleh terjadinya Badai Sitokin (Cytokine Storm) pada tubuh pasien.

Hal ini berdasarkan pada penelitian didukung data yang diperoleh antara lain dari hasil laboratorium; bahwa ada perbedaan signifikan antara pasien yang sembuh dan yang meninggal.

Perbedaan signifikan tersebut antara lain terdapat pada jumlah sel darah putih, nilai absolut pada limfosit, platelet dan albumin, total bilirubin, urea nitrogen dalam darah, kreatinin darah, myoglobin, cardiac troponin, C-Reactive Protein (CRP) dan Inter-Leukin-6 (IL-6).

Gambar CT dan MR dari seorang pasien COVID-19 di Michigan; USA menunjukkan otak terdampak “sindrom badai sitokin”; yaitu ketika sistem kekebalan tubuh menghasilkan banjir sel kekebalan yang dapat menyebabkan kerusakan organ; termasuk otak.

Apa sih yang disebut Sitokin?

Sitokin merupakan protein inflamasi imun yang berfungsi untuk menangkal infeksi dan menjinakkan sel kanker dalam tubuh.

Namun, bila Sitokin  muncul di luar kontrol justru akan dapat menyebabkan penyakit. Kondisi ini dikenal sebagai badai sitokin atau cytokine storm.

Sitokin merupakan protein sistem kekebalan tubuh yang mengatur interaksi antar sel dan memicu reaktifitas imun, baik pada immunitas bawaan maupun adaftif.

Sitokin adalah protein pembawa pesan kimiawi atau perantara dalam komunikasi antar yang sangat potensial; berperan dalam aktifasi Sel-T, Sel-B, Monosit, Macrofage, Inflamasi dan induksi sitotokksisitas.

Badai Sitokin

Badai Sitokin dikenal juga dengan istilah Sindrom Citokin Rilis (CRS) atau Sindrom Badai Citokin (CSS) adalah terjadinya Sindrom Respons Inflamasi Sistemik (SIRS) yang dapat dipicu oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah infeksi oleh virus.

Bila virus yang masuk bersifat baru (belum adanya memori dalam sistem kekebalan tubuh) dan daya patogennya tinggi; maka cenderung pelepasan sitokin menjadi tidak terkendali. Ini terjadi ketika sejumlah besar sel darah putih diaktifkan dan melepaskan sitokin inflamasi, yang pada gilirannya mengaktifkan lebih banyak lagi keterlibatan sel darah putih.

Gejala
Gejala umum yang ditimbulkan akibat terjadinya Badai Sitokin ini adalah demam, kelelahan, kehilangan nafsu makan, nyeri otot dan persendian, mual, muntah, diare, ruam, pernapasan cepat, detak jantung yang cepat, tekanan darah rendah, kejang, sakit kepala, kebingungan, delirium, halusinasi, tremor, dan kehilangan koordinasi.

Penyebab

Hingga kini belum diketahui secara pasti perihal penyebab terjadinya Badai Sitokin pada seseorang. Namun hal ini dikaitkan dengan karkteristik dari sistem kekebalan tubuh yang dimiliki oleh seseorang.

Namun telah diketahui bahwa konsumsi makanan dengan mengandung perseferasi zat pewarna yang diawetkan; maka dalam tubuh seseorang akan memilki risiko terbentuknya citokin rilis yang siap melepaskan citokin kapan saja akibat makanan tersebut.

Makanan yang sehat dengan asupan gizi yang baik; banyak sayuran dan buah; istirahat yang cukup, serta faktor pengelolaan stres yang baik; tidak panik, tenang, selalu gembira, berpikiran positif dipercaya dapat memperbaiki sistem kekebalan tubuh.

Sementara itu aktivitas fisik atau olahraga seseorang dikaitkan dengan kebugaraan dan faktor kemampuan dalam pengendalian stres.

Mengenal Badai Citokin

Badai Citokin (Cytokine Storm) COVID-19

Ketika seseorang yang sudah memilki potensi citokin rilis kemudian terinfeksi dengan virus penyebab Covid-19; maka citokin rilis seolah olah dipicu dan dibangunkan. Maka terjadilah pelepasan sitokin yang tidak terkendali atau yang disebut badai sitokin.

Badai citokin menciptakan peradangan yang melemahkan pembuluh darah di paru-paru dan menyebabkan cairan meresap ke kantung udara (alveoli), membanjiri pembuluh darah dan akhirnya menciptakan masalah sistemik di banyak organ, yang dapat mengakibatkan kerusakan pada seluruh organ.

Badai sitokin yang terjadi di paru-paru akan membuat paru-paru akan dipenuhi oleh cairan dan sel-sel imun seperti Macrofage. Hal ini dapat menyebabkan penyumbatan jalan napas lalu menimbulkan sesak napas dan bahkan dapat menyebabkan kematian.

Pada kasus Covid-19, respons citokin dikombinasikan dengan menurunnya kemampuan atau kapasitas dalam memompa oksigen ke seluruh tubuh, dapat menyebabkan kegagalan organ. Kerusakan organ organ itu antara lain paru paru atas bengkak, jantung mengalami miokarditis, ginjal mengalami acute kidney injury, hati mengalami acute ishemic liver, otak mengalami ensefalitis; dan istilah ini kemudian dikenal dengan istilah Multiple Organ Dysfunction Syndrome (MODS), yang dapat mengakibatkan kematian.

Belum diketahui secara pasti; penyebab bahwa beberapa pasien mengalami komplikasi di luar paru-paru, tetapi itu mungkin berkaitan dengan kondisi penyakit yang telah ada sebelumnya; seperti penyakit jantung atau diabetes. Seseorang yang telah memilki penyakit sebelumnya; misalnya gangguan ginjal, kardiovaskular, diabetes; maka kejadian kegagalan organ akan cenderung lebih rentan.

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close